Menjual Kekhawatiran



"Pak, jika bapak harus pergi satu hari meninggalkan keluarga, berapa banyak uang yang harus bapak berikan (tinggalkan) untuk keluarga?"

"Bila bapak pegi seminggu, berapa banyak uang yang bapak berikan?" 

"Bila bapak pergi sebulan, berapa banyak uang yang bapak berikan?" 

“Nah, seandainya bapak harus pergi selama-lamanya, berapa banyak yang harus bapak berikan (tinggalkan) untuk keluarga?" 

Pertanyaan itu dilontarkan oleh seseorang yang mengisi sela dalam sebuah seminar. Namun kalimat serupa bukan pertama kalinya saya dengar. Banyak pertanyaan lain seperti; "Bu, bagaimana bila ibu atau keluarga ibu sakit dikemudian hari dan harus membayar mahal biaya rumah sakit.", "Bu, bagaimana bila suatu saat rumah ibu kebakaran?" Dan lain lain…

Pertanyaan seperti diatas adalah pertanyaan tentang sebuah kekhawatiran akan sesuatu yang belum pasti terjadi. Khawatir itu memang perlu, namun tidak perlu berlebihan. Sebab, saat kita terlalu khawatir akan masa depan, kita seolah-olah kurang percaya kepada Sang Pengatur Kehidupan ini. Kita takut hidup kita susah, keluarga susah, miskin dan sebagainya. Padahal semua itu belum tentu terjadi. Bilapun terjadi, apakah kita yakin bahwa kita tidak memiliki kemampuan untuk menghadapinya, yakin bahwa tidak ada yang akan membantu?

Sayangnya, kekhawatiran seperti ini dianut banyak orang. Celakanya lagi, tidak hanya satu hal yang dikhawatirkan, namun banyak sekali. Mulai dari khawatir diri sendiri, anak, cucu, harta benda, bisnis dan sebagainya. Maka jadilah penjualan kekhawatiran berjaya karana pengkhawatir kehiduapan ada dimana-mana. 

Anehnya, kita jarang mengkhawatirkan sesuatu yang sudah pasti terjadi, yaitu "kematian". Jarang mengkhawatirkan apakah sudah memiliki bekal. Jarang mengkhawatirkan apakah bekal sudah cukup atau belum. Padahal kematian adalah kepastian. Dan akhir dari kehidupan dunia ini adalah perjalanan panjang yang tak berujung. Jangankan untuk mengkhawatirkan kematian, membayangkannya saja mungkin menurut kita sangat menakutkan dan menyeramkan. Sehingga ketika teringat kematian, kita segera membuang jauh pikiran tersebut dan memilih untuk memikirkan hal lain. 

Andaikata seseorang selalu mengingat kematian, pasti ia memperhatikan apa yang diperbuatnya. Ia akan takut berbuat lalim kepada dirinya sendiri dan orang lain. Ia merasa selalu diawasi oleh malaikat pencabut maut dan ia sadar bahwa setiap keburukan yang dilakukan akan mendapatkan ganjaran. Kematian akan menjadi sebuah peringatan yang ampuh sekaligus motivasi dalam menjalani kehidupan. Rasulullah SAW bersabda;

“Sesungguhnya malaikat maut selalu memperhatikan wajah manusia di muka numi ini 70 kali dalam sehari. Ketika malikat maut datang memperhatikan wajah seseorang, didapatinya orang itu sedang bercanda ria selalu. Maka, malaikat maut berkata;  Alangkah herannya aku melihat orang ini, padahal aku diutus Allah untuk mencabut nyawanya, tetapi dia malah berhura-hura dan bercanda ria.”

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang selalu mengingat kematian dan selalu mempersiapkan diri untuk menyambutnya. Aamiin 



No comments

Powered by Blogger.