Kuliah pra Nikah (3) Mengenal Calon Pasangan Tanpa Pacaran




Assalamualaikum, kembali lagi dengan pembahasan Kuliah pra Nikah. Udah baca artikel kuliah pra nikah (2)  Baca dulu yuk 

Tak lupa mengingatkan untuk berhati-hati dalam membaca tulisan ini. Sebab yang nulis aja belum ‘expert’ dengan tema beginian. Hanya ingin menyampaikan apa yang didapatkan dari Kuliah pra Nikah, ditambah dengan buku Syariat Cinta karya ustadz Nanang Zakaria, serta ditambah dengan pemahaman dan pengalaman pribadi. Mudah-mudahan tidak menyesatkan dan bila ada salah kata, mohon dimaafkan. Saya hanyalah remeh-remeh rempeyek yang tidak pernah lepas dari khilaf dan salah. Hehe.

Baiklah, tak perlu berpanjang lebar. Terlebih dahulu, marilah kita simak percakapan antara Mawar dan Melati di taman.

Melati: “Mawar, kamu kan kalau nikah pakai ta’aruf ya? Trus gimana kalau udah nikah ternyata kelakukannya mengecewakan dan nggak sesuai”.
Mawar: “Justru itulah Melati. Ta’aruf itu artinya mengenal, tapi bukan kenalan langsung nikah ya. Kita mengenal calon pasangan terlebih dahulu. Kalau cocok, lanjut. Dan kalau memang nggak cocok, ya sudah dilepaskan.”
Melati: “Kamu nggak ragu kah dengan cara ini?”
Mawar: “Bagi aku, orang yang berta’aruf itu saja sudah memiliki poin plus, itu artinya menjauhui pacaran yang dilarang Allah”.
Melati: “Oke deh sippp. Aku mau ta’aruf juga. Hehehe”
Mawar: “Kamu udah siap nikah? Udah dapat izin dari orang tua?”
Melati: “Belom”
Mawar: “Gubrakk!!!”

Mengenal seseorang tidak harus dengan jalan pacaran. Tapi sepertinya banyak orang yang ragu dengan jalan ta’aruf. Takutnya ‘beli kucing dalam karung’. Hihihi. Padahal ta’aruf itulah suatu jalan untuk mengenal calon pasangan agar tidak ‘beli kucing dalam karung’.

Nah, apa saja tahapan mengenal calon pasangan tanpa pacaran?

1. Mendapatkan Informasi Dasar
Info dasar menyangkut tentang biodata pasangan. Info ini bisa didapatkan dari temannya, saudaranya, gurunya atau tetangganya. Bisa juga dengan membaca biografi pasangan dengan media proposal yang sudah diajukan.
2. Melihat langsung (nadzor)
Melihat calon pasangan ini penting dan dianjurkan oleh rasulullah. Agak aneh sih, kalau mau nikah, tapi nggak pernah liat orangnya. Karena kita akan menjalani perjalanan kehidupan dengan si dia *eh. Nadzor ini dilaksanakan secara langsung, bukan lewat foto. Ya, tahu deh, kadang foto itu menipu, ditambah lagi dengan filterny yang ruar biaza, hehehe.
“Dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW bertanya kepada seseorang yang hendak menikahi wanita. “Apakah kamu sudah pernah melihatnya?”. “Belum”, jawabnya. Nabi SAW bersabda, “Pergilah melihatnya dahulu”. (HR.Muslim)
Melihat calon pasangan bisa dengan datang ke rumahnya agar calon pasangan keluar dengan mahromnya. Atau bisa juga dengan didampingi pembimbing agama (murobbiyah). Tapi teteup, bagian yang boleh dilihat hanya wajah dan tangan aje sesuai dengan syariat ya.
3. Ta’aruf
Sekali lagi, ta’aruf berbeda dengan pacaran. Ta’aruf hanya dilaksanakan apabila telah memiliki kesiapan menikah, salah satunya telah mendapatkan restu orang tua. Sehingga ta’aruf ini tidak menciptakan PHP dikemudian hari, bukan pula sebuah modus terselubung. Hihihi
Proses ta’aruf harus sesuai dengan syariat islam, tidak boleh berkhalwat atau berdua-duaan, sehingga harus didampingi oleh mahrom atau ustadz/ustadzahnya.

Dalam proses ini juga tidak boleh ada yang disembunyikan sehingga tidak menimbulkan penyesalan di kemudian hari. Pada tahap ini kamu dan dia bisa saling mengukur diri, menilai dan saling bertanya. Sehingga mendapatkan gambaran jelas tentang dirinya. Apalah dirinya pantas untuk dibawa dalam doa istigharah atau tidak. Hihihi
Dalam ta’aruf, kamu memiliki hak untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan detail kepada calon pasangan. Si dia juga boleh mengajukan pertanyaan. Jadi, saling bertanya. Namun tidak boleh menyebarkan aib yang tidak perlu diketahui oleh orang lain. Kekurangan sama aib beda ya. Misalnya “tidak pandai masak” itu adalah kekurangan bukan aib. Wkwkwkwk

Satu hal yang penting neh, jangan bawa perasaan atau baper, berkhayal terlalu tinggi, sehingga terburu-buru menjatuhkan rasa cinta kepadanya. Karena yang dia yang berta’aruf belum tentu jodoh. Jika tidak cocok, maka boleh dilepas dan jika masing-masing telah sepakat dan merasa cocok,maka proses bisa dilanjutkan ke proses khitbah atau melamar. Uhuk uhuk.

Hm, sekian dulu ya, mudah-mudahan bermanfaat bagi siapa saja yang memilih jalan ta’aruf untuk menikah, *termasuk saya pribadi, hehehe. Sesuatu yang baik hanya akan didapatkan dengan jalan yang baik. InsyaAllah artikel selanjutnya (dan yang terakhir) adalah tentang “Persiapan pra Nikah”. Tapi jangan lupa like, comment dan share yang ini dulu ya :

Akhir kata saya ucapkan terima kasih telah berkunjung dan membaca. Mudah-mudahkan bermanfaat.





Assalamulaiakum :)

No comments

Powered by Blogger.