Kesal yang Berujung Bahagia




Pernahkah ada kejadian dalam kehidupan kita di masa lalu yang membuat kita bahagia. Namun, pada hari ini, ketika kita mengingatnya, ternyata kejadian itu menyakitkan. Dan sebaliknya, adakah kejadian menyakitkan di masa lampau, namun menjadi sesuatu yang begitu menyenangkan di masa ini? Ada? 

Sebagai manusia, kadang kita tidak bisa men‘judge’ apakah sesuatu itu baik atau buruk sebelum kita mengetahui kebenarannya dan hikmah dibaliknya. Sama seperti seorang yang berhijrah, mengubah diri menjadi orang yang lebih baik. Mungkin, di masa lalu ia menilai kebahagian adalah dengan berfoya-foya, pacaran dan melakukan apa saja yang ia inginkan. Namun ketika ia sudah hijrah, barulah ia sadar bahwa semua kesenangan itu adalah keburukan dan ia pun menyesalinya. 

Begitu pula yang begitu menyakitkan bagi diri kita di masa lalu. Kehilangan pacar misalnya, atau diselingkuhi padahal lagi sayang-sayangnya. Lalu menangis tiap malam di kamar, tiga bulan berturut-turut. Teringat semua kenangan yang indah, namun saat yang sama merasa sakit hati. Kita merasa terpuruk, sedih dan kecewa. Tapi itu semua dulu, disaat sekarang kita mengenang kejadian itu, kita menganggap hal tersebut begitu konyol dan terlalu bodoh untuk ditangisi. Kini tiada lagi rasa sakit itu, yang ada hanya rasa bahagia dan bersyukur karena telah meninggalkan kemaksiatan. 

Jadi jangan terlalu dini untuk menentukan dugaan apalagi berprasangka buruk atas apa yang kita alami. Bisa jadi hal yang kita anggap baik sebenarnya adalah buruk. Sedangkan hal yang buruk sebenarnya adalah baik. Berprasangka baiklah terhadap apa yang menimpa. Tidaklah semua hal yang baik atau buruk terjadi, melainkan ada hikmahnya. Bahkan tertusuk duri kecil pun bisa menjadi asbab gugurnya dosa asal ikhlas menerima. Apalagi bila kita ditimpa kesusahan lalu ikhlas dan bersabar. 



***
Gubuk Kecil yang Terbakar 

Alkisah ada seorang pemuda yang berlayar di lautan. Namun tiba-tiba, angin kencang dan ombak ganas menerjang sehingga kapalnya terhempas dan tenggelam. Untungnya ia selamat, ia terombang ambing oleh gelompang hingga terdampar di pinggir pantai sebuah pulau kecil yang tak berpenghuni.

Dibalik kelemahan dan kepayahan itu, ia berdoa kepada Allah untuk memohon bantuan dan pertolongan agar bisa kembali ke keluargnya. Selama di pulau, ia bertahan hidup dengan memakan tumbuhan dan hewan yang didapat. Ia juga membuat gubuk kecil dari potongan-potongan pohon untuk berteduh dan tidur di malam hari. 

Suatu ketika, pemuda itu meninggalkan gubuknya untuk mencari makan di sekitar pulau. Namun alangkah terkejutnya ia ketika mendapati gubungnya telah terbakar oleh api. Ia pun berteriak “Mengapa semua ini menimpaku? Aku telah kehilangan kapal, jauh dari keluarga dan sendirian di pulau ini. Sekarang gubukku telah terbakar dan aku sudah tak memiliki apa-apa lagi.”

Pemuda itu akhirnya tertidur dengan penuh kesedihan, saat ia mulai terbangun, samar-samar ia melihat sebuah perahu mendekat ke pulau tersebut. Ia segera berdiri kegirangan. Ketika naik di atas perahu, ia bertanya “Baimana mereka bisa menemukan dirinya di pulau tersebut?”. Mereka menjawab, “Kami melihat asap yang membumbung, dari situlah kami mengetahui bahwa ada seseorang yang membutuhkan pertolongan.”

No comments

Powered by Blogger.