Gelora Literasi di Kalimantan Barat: Jejak Pegiat dan Penikmat




Minggu,18 Februari 2018, bertempat di aula Balai Bahasa Kalimantan Barat, Forum Lingkar Pena Kalimantan Barat mengadakan dialog literasi yang bertema “Gelora Literasi di Kal-Bar: Jejak Pegiat dan Penikmat.  Dialog ini dihadiri oleh berbagai komunitas literasi ini di Kal-Bar seperti Kalbar Membaca, Taman Baca Masyarakat, Rumah Aloy dan masih banyak lagi.  

Saat ini, Kalimantan Barat khususnya kota Pontianak tengah digegerkan dengan pemberitaan bubarnya Unit Pelayanan Teknis Perpustakaan Provinsi Kal-Bar. Hal ini tentunya menimbulkan tanda tanya bagi masyarakat Kal-Bar. Apakah penyebab bubarnya UPT? Bagaimana nasib UPT kedepannya? Apakah hal ini akan berpengaruh pada literasi sastra di Kalbar? Untuk itulah, dialog ini menghadirkan bapak Untad Darmawan selaku mantan pimpinan UPT Perpustakaan Kalbar dan Musfeptial Musa sekalu peneliti sastra Kalimantan Barat. 

Dalam kesempatan ini, bapak Untad Darmawan menjabarkan awal kisahnya menerima amanah sebagai kepala UPT Perpustakaan prov. Kal-Bar. Saat itu, kondisi perpustakaan cukup memperhatinkan, dimana kondisi buku berdebu, jam pelayanan kurang, ruangan panas dan kekurangan lainnya. Kondisi tersebut membuat beliau berpikir keras bagaimana cara menciptakan kondisi perpustakaan yang nyaman dengan koleksi buku yang memadai, sehingga semakin banyak orang yang berkunjung ke perpustakaan. Dengan demikian, minat baca masyarakat akan semakin meningkat. Inovasi demi inovasi dilakukan untuk mewujudkan harapan itu. Akhirnya, dengan tekad dan kerja keras, semua itu dapat 
terwujud. 

Kiri: Asmirizani (moderator), bapak Untad Darmawan, bapak Musfeptial Musa. 

Namun bukan hanya itu, UPT Perpustakaan prov. Kal-Bar juga berupaya mengelola perpustakaan-perpustakaan mini yang ditempatkan di tempat strategis seperti warung kopi, hotel, restauran, bahkan di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia.  Usaha untuk meningkatkan minat baca masyarakat juga dilakukan dengan cara menggelar Kal-Bar Book Fair yang telah diadakan pada tahun 2016 dan 2017. UPT Perpustakaan prov. Kal-Bar juga berupaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam dunia literasi dengan membuka kelas menulis ‘Libraray Creative Centre’, ‘hand-lattering’, komik dan animasi yang terbuka secara umum dan gratis. 

Dalam uraiannya, pak Untad Darmawan menyatakan bahwasanya ia masih memiliki banyak sekali impian yang hendak dibangun. Namun, impian itu harus terhenti sejenak sejak dikeluarkannya keputusan pembubaran UPT Provinsi Kal-Bar. Jelas saja, hal ini mengejutkan tidak hanya mengejutkan pihak UPT, namun juga masyarakat yang telah merasakan banyak manfaat dari Pelayanan UPT Perpustakaan Provinsi Kal-Bar. Beberapa dari peserta dialog menyampaikan rasa simpati dan kesedihan atas keputusan tersebut, termasuk ibu Sukarni yang pernah belajar menulis di kelas LCC. Namun, dunia literasi tak boleh berhenti hanya karena UPT Perpustakaan prov. Kal-Bar bubar. Seperti yang dikatakan oleh Varli Pay Sandi, pelopor Kalbar Membaca, bahwasanya banyak cara lain yang bisa kita lakukan untuk memajukan literasi di kalbar. Hal senada juga diungkapkan oleh pak Untad Darmawan untuk tidak berlarut dalam kesedihan, “Mungkin saja ada rencana lain yang Allah siapkan, karena kita tidak pernah tahu apa hal yang akan terjadi kedepan.” Ungkapnya.  


 Selain pak Untad Darmawan, peneliti sastra Kal-Bar, bapak Musfeptial musa juga menyampaikan pembahasan tentang literasi di Kal-Bar. Tentunya, dunia literasi tidak bisa lepas dari kegiatan membaca, menulis dan ketersediaan buku. Namun bukan hanya itu. Menurutnya, daya beli masyarakat juga mempengaruhi perkembangan literasi. Bagaimana bisa membaca, tapi tidak memiliki buku karena tidak membelinya? Hal inilah yang masih menjadi perhatian untuk bagaimana membuat masyarakat paham akan pentingnya buku dan memiliki daya beli yang tinggi terhadap buku-buku. 

Selain membicarakan literasi secara umum, pak Musfeptial juga memberikan kritik dan saran untuk FLP Kalimantan Barat. Saat ini, FLP Kal-Bar memiliki tiga cabang yaitu Pontianak, Kubu Raya dan Mempawah. Menurutnya, hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Dengan banyaknya kabupaten dan kota di Kalimantan Barat, FLP Kal-Bar harus memperluas jaringan agar kebermanfaatannya dirasakan banyak pihak. Selain itu, bedah karya juga dibutuhkan agar mutu karya yang dihasilkan oleh anggota FLP lebih baik.

1 comment:

  1. wah kok sudah jarang aktif blognya?? padahal blognya bagus

    ReplyDelete

Powered by Blogger.