Kecelakaan yang Menyenangkan

Oleh Veniy Andriyani



“Kamu sudah sadar? Apa kamu baik-baik saja?”
Sebuah pertanyaan terlontar kala aku baru saja menggerakkan tanganku. Suara itu pula yang memaksaku membuka kedua mata untuk melihat siapakah yang bertanya.
            Ternyata dia.
***

“Hallo Jensi, kamu udah bersiap-siap? Sebentar lagi aku jemput kamu ya. Tunggu di depan rumah!”
“Iya, aku sudah siap.”
“Baiklah. Aku segera kesana ya. Mau pakai sepatu dulu.”
Sabtu siang, aku dan Hunna merencanakan untuk hotspot sembari mengerjakan tugas kuliah semester 5. Kali ini giliran Jensi yang menjemputku di rumah.
“Kamu tidak masuk dulu, Hunna? Nanti aku buatkan es teh.”
“Tidak usah. Kita langsung jalan saja ya.”
“Baiklah.”
Hunna mengendarai motor metiknya, saat keluar dari komplek menuju jalan raya, Hunna belok ke kanan, namun ia tak melihat ke arah belakang. Motornya pun terlalu melaju ke arah tengah jalan. Sehingga mengagetkan pengendara di belakang kami. Bagian belakang motor Hunna tertabrak kendaraan lain. Motor jatuh, aku terpelanting ke jalan, menyium aspal dan kakiku tertimpa motor. Luka, berdarah. Sebenarnya tidak begitu sakit, namun aku terlalu syok, hingga membuat aku terhuyung-huyung, setengah sadar, tak mampu untuk bergerak dan berkata-kata.
“Jen, Jensi, bangun Jen!” 
 Suara Hunna terdengar samar ditelingaku.
“Mbak, bangun Mbak!”
Suara itu tak kukenal.
“Pak ini tolong teman saya pingsan, bawa saja ke rumah sakit dekat sana.”
Kebetulan jarak rumahku dengan rumah sakit kota tidak terlalu jauh. Sehingga aku dilarikan kesana.
“Pindahkan ke mobil pick-up saya, Pak. Biar saya yang mengantarnya.” 
Aku merasa tubuhku diangkat banyak orang, setelahnya kesadaranku hilang total.

***
“Hunna, apa yang terjadi tadi?”
“Maafkan aku Jens, aku terlalu ngebut dan tidak memperhatikan jalan, hingga kecelakaan itu pun terjadi.”
Kondisi Hunna nampak baik-baik saja. Hanya pergelangan tangannya yang luka dan bajunya yang berdebu terkena aspal.
“Bukan salahmu Hunna, tak perlu menyalahkan diri sendiri. Aku baik-baik saja. Kakiku juga tidak terlalu sakit. Hanya saja tadi aku terlalu kaget hingga tak sadarkan diri.”
Hunna menunduk merasa bersalah.
“Omong-omong, abang yang tadi itu siapa Hunna? Dia yang menabrak motormu?”
“Bukan Jens, yang menabrak tadi seorang bapak yang mengendarai motor. Ia kaget dan tidak bisa menghentikan laju motornya. Sebenarnya ini semua bukan salahnya, tapi salahku.”
“Hunna, sudahlah. Aku tidak menyalahkanmu atas kecelakaan ini. Terkadang kita butuh hujan badai untuk melihat indahnya pelangi. Begitupun dengan kecelakaan ini, kita butuh sakit untuk mengerti dan bersyukur  makna sehat.”
“Terima kasih Jens. Sekarang aku merasa lebih lega.”
Hunna tersenyum. Tidak ada lagi rasa bersalah yang menyelimuti hatinya.
“Jens, ini ada sate ayam kesukaanmu. Makanlah dulu.”
“Apa aku boleh makan sate, Hun?”
Jensi menatap heran. Biasanya orang yang sedang sakit banyak sekali pantangannya. Apalagi ketika berada di rumah sakit.
Hahaha. Boleh lah. Dokter bilang tidak ada pantangan. Kita juga tidak menginap di rumah sakit ini. Setelah kamu merasa mendingan, kita sudah bisa keluar.”
Jensi sudah tak sabar memakan sate ayam kesukaannya.
“Hai Hunna, Jensi. Aku bawakan air mineral dan buah untuk kalian. Bagaimana kondisimu sekarang Jens? Sudah lebih baik?”
Jensi menengok ke sumber suara tersebut.
Dia terlalu baik.

***
“Iya, aku baik-baik saja. Namun kepalaku masih terasa pusing. Omong-omong, kamu siapa? dan kemana Hunna?”
“Aku Izzat yang mengantarmu ke rumah sakit ini. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa Hunna sekarang sedang mengambil obatmu di apotek.”
Sebenarnya Jensi hendak bertanya, apakah Izzat yang menabraknya atau bukan. Jika Izzat yang menabraknya tadi, mungkin ini adalah satu bentuk tanggung jawabnya. Namun, bila bukan Izzat yang menabraknya, ia orang yang terlalu baik.
Tak lama kemudian, Hunna datang membawa obat-obatan Jensi. Sementara Izzat pamitan keluar.

***
“Hunna, kenapa dia terlalu baik? Padahal bukan ia yang menabrak motor kita tadi. Namun ia rela mengantarkanku di rumah sakit, menungguku sadar dan membelikan air dan buah-buahan ini?”
“Bukan hanya itu Jens, tapi sate yang kamu makan tadi adalah pemberian darinya. Bahkan ia menawarkan untuk mengantarkan kamu pulang dengan mobil pick-upnya. Kamu tidak keberatan bukan?”
“Tentu saja aku tidak keberatan Hun. Bagiku bukan masalah mobil mewah atau bukan. Namun niat kebaikannya. Ada dimana Izzat sekarang?”
“Tadi dia bilang mau ke kantin sebentar.”
Jensi terdiam, Izzat bukan hanya terlalu baik, namun juga mengagumkan.

***
“Bagaimana Jensi? Kita sudah bisa pulang?” tanya Izzat kepadanya.
Jensi tersenyum tipis dan mengangguk.
“Apa Hunna sudah bilang kalau kita akan naik pick-up? Namun tenang saja, kali ini kamu tak lagi terbaring di belakang, tapi duduk di depan. Kamu tidak keberatan bukan?”
“Asal bersamamu aku tidak keberatan naik apapun.” Jensi berkata dalam hatinya.
“Tentu saja tidak. Aku sama sekali tak keberatan. Malah aku sangat berterima kasih kepadamu Izzat.”
“Baiklah. Hunna, tolong Jensi berjalan menuju pintu depan ya. Aku akan menyiapkan mobil.”
Izzat mengantar Jensi dengan mobil pick-upnya. Sedangkan Hunna menuntun mereka dengan motornya.
***
“Izzat, aku tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikanmu. Aku berhutang budi.”
Jensi mengatakan hal itu, setelah mereka baru saja turun dari mobil pick-up Izzat.
“Bagiku, melihat orang lain bahagia dengan apa yang bisa kuperbuat, itu sudah lebih dari cukup, Jens, Kamu tidak perlu merasa berhutang budi.”
“Terima kasih ya Izzat telah membantu aku dan Jensi. Kalau tidak ada kamu, mungkin aku akan pingsan tadi. Hehehe.”
Hunna menimpali.
“Iya Hunna, sama-sama. Aku hanya perpanjangan tangan Tuhan untuk membantu kalian. Aku pamit dulu ya.”
“Eh, tunggu Izzat!”
Jensi memberanikan diri untuk memanggil Izzat.
“Bolehkah kami meminta nomor hanphone-mu?”
“Tentu saja tidak.”
Jensi dan Hunna merasa bingung. Apa ada yang salah dengan meminta nomor handphone seseorang?
Hahaha. Jika kalian meminta nomor handphone-ku, lantas aku akan pakai nomor yang mana. Tidak mungkin aku memberikannya kepada kalian.”
Jensi dan Hunna terlihat bingung. Masih mencerna lelucon yang Izzat lontarkan. Sesaat kemudian mereka mengerti, lantas tertawa kecil.
“Bukan meminta, tetapi menyalin. Tunggu sebentar ya!”
Izzat mengambil secarik kertas dan pulpen dari dalam mobilnya lalu menuliskan sesuatu.
“Ini. Kamu bisa membuka kertas ini setelah aku pergi.”
Ia menyodorkan sebuah kertas yang telah terlipat kepada Jensi.
“Apa kamu tidak singgah dulu kerumahku?”
“Maaf Jensi, sepertinya aku tidak bisa. Ada hal yang mesti aku kerjakan. Salam dengan orangtuamu ya. Mudah-mudahkan mereka tidak panik ketika mendengar kabar kecelakaan ini.”
“Baiklah, hati-hati di jalan ya.”

***
“Hunna, bagaimana kalau hari Minggu ini kita bertamu ke rumah Izzat. Setidaknya kita bisa membawakannya buah atau kue, sebagai tanda terima kasih kepadanya.”
“Ide yang bagus. Namun sepertinya, kamu harus menghubunginya terlebih dahulu untuk memastikan apakah dia berada di rumah atau tidak.”
Sebenarnya alasan dibalik semua ini bukan hanya soal membalas kebaikan Izzat, namun ada hal lain yang disembunyikan Jensi kepada Hunna. Sebuah rasa yang mulai tumbuh karena kekagumannya kepada Izzat.
“Aku ke kamarmu dulu ya Jens, mau ngecas handphone.”
“Oke.”
Setelah Hunna masuk ke kamar, Jensi dengan tanggap mengambil ponselnya untuk menelpon Izzat.
“Halo…”
Terdengar suara perempuan dari ponsel tersebut.
“Halo. Apa benar ini nomor hanphone Izzat?”
Suara perempuan itu mengejutkan Jensi. Barangkali nomor yang ia ketik salah hingga tidak tersambung dengan Izzat.
“Iya benar, saya istrinya Izzat. Ia sedang di kamar mandi sekarang.”
Jensi terkejut. Ternyata Izzat telah memiliki seorang istri. Ia mematung, berusaha untuk menyakini apa yang didengarnya.  
“Ada yang mau disampaikan ke Izzat?”
“Eh, maaf menganggu. Saya hanya ingin memastikan bahwa ini adalah nomor Izzat. Terima kasih ya.”
“Oh iya. Sama-sama.”

***

“Bagimana Jens? Kita jadi kesana”
Hunna baru saja keluar dari kamar dan menemui Jensi di teras rumah.
“Tidak Jadi Jens. Sepertinya hari ini Izzat sibuk.”
“Oh ya sudah, kita lanjut mengerjakan tugas saja.”
Hunna tidak mengetahui bahwa Jensi menyukai Izzat. Untungnya itu hanya perasaan yang baru tumbuh, belum mekar. Sehingga mudah bagi Jensi untuk meleyapkan perasaan itu. Apalagi seteleh mengetahui bahwa Izzat telah memiliki istri. Perasaan itu luluh tak bersisa.
Seharusnya Jensi sadar bahwa cara terbaik untuk membalas kebaikan seseorang bukan dengan cara menyukai atau mengagumi orang tersebut. Namun cara terbaikny adalah dengan  melakukan kebaikan kepada orang lain sehingga kebaikan itu tidak terputus. Seperti apa yang Izzat tuliskan pada kertas itu. Kertas yang tidak hanya berisi nomor handphone, namun juga sebuah tulisan;
“Balaslah kebaikan dengan berbuat baik kepada orang lain.”







*Cerpen ini terbit di Pontianak Post, edisis Minggu 21 Januari 2018









No comments

Powered by Blogger.