Nikah Sama Dia atau Tidak?



Yang namanya perempuan pasti nggak sah kalau nggak curhat. Apapun pengen diomongkan, mulai dari hal yang nggak penting, penting sampai ke hal yang rahasia. Dan di usia 20 tahun keatas, curhatan seputaran nikah lagi hits-hitsnya. Mungkin emang lagi masanya. Heheh. 

Beruntungnya, aku berteman dengan banyak perempuan dengan latar belakang yang berbeda, Jadi terdapat banyak referensi curhatan. Ada beberapa teman yang menganut sistem pacaran, ada yang ta'arufan, ada yang lagi persiapan nikah dan ada yang udah nikah. 

Mereka yang pacaran ada yang pengen segera nikah tapi pacarnya banyak alasan. Ada juga yang nggak bisa lepas dari pacarnya, tapi nggak pengen nikah dengan pacaranya, Lho gimana? 

Jujur aja, sebenarnya aku nggak suka liat orang pacaran, apalagi teman sendiri. Kan kasihan berbuat dosa terus. Tapi gimana, susah juga menasehati mereka. Kalau ada yang bilang orang yang jatuh cinta nggak bisa dinasehati, bener banget tu! Kadang aku bertanya kepada mereka yang pacaran, "Kamu yakin nggak kalau menikah dengan dia?" dan ada yang bilang "Belum yakin sih", ada juga yang bilang "Aku hanya mau pacaran aja sama dia, tapi aku nggak mau nikah sama dia". Gubrak! 

Kenapa ada yang ragu dan ada yang nggak mau nikah sama pacarnya, ternyata jawabannya adalah karena mereka udah tahu keburukan pacarnya itu, ada juga yang latar belakang yang berbeda. Tapi meski udah tahu keburukannya, udah tahu kalau keluarga mungkin nggak ngerestui, masih aja pacaran. Kalau putus sebentar, galau, abis itu balikan lagi. Sampai-sampai ada teman yang rela menyibukkan diri jualan online bukan karena pengen dapat untung, tapi demi dapat kesibukan baru dan bisa ngelupakan mantannya. Setelah nyambung lagi, berakhir pula jualan online yang ia lakukan. Hehehe lucu ya... 

Dari curhatan-curhatan mereka, aku jadi mendapatkan hikmah bahwa nggak semua orang yang pacaran itu benar-benar yakin bahwa mereka akan menikah dengan pacarnya, walaupun pacaran tersebut dilakukan buat persiapan nikah. Mending ta'arufan aja kali ya. Tapi memang nggak mudah sih buat meyakinkan teman-teman yang menganut sistem pacaran untuk pindah ke sistem ta'arufan. Karena mereka pikir bahwa jalan mengenal seseorang adalah dengan pacaran, bukan ta'arufan Ada yang bertanya kayak gini "Gimana kalau 'dia' yang ta'arufan terlihat baik-baik saja, ternyata setelah nikah sifat dan sikapnya beda?" 

Then, I answer "Setidaknya laki-laki yang ta'arufan itu tidak mengajak kepada keburukan (red: pacaran), mereka menjaga kehormatan wanita dan paham agama. Lagi pula yang ta'arufan itu memang siap nikah, jadi nggak main-main. Yang namanya ta'aruf kan artinya kenalan, jadi dari situlah kita mengenal orangnya. Kalau dari perkenalan itu memang nggak cocok, proses ta'aruf bisa dihentikan. Untuk mengenal si dia, nggak hanya dari orangnya, tapi juga dari ustadz/perantaranya, dari teman-temannya, dari keluarganya dan lain-lain. Jadi kita mengenal betul siapa dia sebelum nikah, bukan beli kucing dalam karung." (jawabannya sok bijak, padahal yang kasi nasehat belum pernah ta'arufan, wkwkwkw). Jadi? mau pacaran atau ta'arufan? 


Ini tulisan kayaknya udah kemana-kemana deh, kita sudahi dulu aja ya. Mudah-mudahan ada manfaatnya. :)






No comments

Powered by Blogger.