Rugi Dunia dan Akhirat


sumber gambar: media dakwah islam

Dulu, saya pernah menonton sebuah video ceramah di Facebook yang isinya seperti ini (versi seingat saya):

“Banyak motivator yang mendorong kita untuk sukses dalam kehidupan. Kita diarahkan untuk bangun lebih awal, disiplin, rajin, bekerja keras dan sebagainya untuk meraih apa yang diimpikan. Kita juga dituntut untuk menentukan rencara serta cara untuk mencapainya. Pada akhirnya, semua orang memiliki kesempatan untuk sukses dan ada yang benar-benar sukses. Namun, akan ada suatu masa dimana semua kesuksesan tersebut akan berakhir, yaitu ketika seseorang meninggal dunia. Sebesar apapun pencapaiannya, semua akan dikalikan dengan nol bila ia tidak memiliki iman. Dengan kata lain, ia tak memiliki bekal apapun dan apa yang pernah dilakukan dan didapatkan di dunia menjadi sia-sia. Lain halnya ketika seseorang memiliki iman, apa yang dilakukannya akan dikalikan dengan satu (bahkan bisa lebih jika Allah menghendaki), sehingga apa yang ia perbuat (karya, prestasi, kesuksesan, dsb) akan bernilai sama atau lebih dihadapan Allah. Ketika ia meninggal, ada amal dan pahala yang sudah tercatat untuknya dan menjadi bekal untuk diakhirat. Maka milikilah iman kepada Allah serta niat karena-Nya dalam melakukan apapun.” 

Saya kemudian merenung membayangkan orang-orang dulunya pernah sukses, mati-matian berusaha, kerja keras siang dan malam untuk mencapai apa yang ia inginkan. Namun ketika kematian menjemput dan ia masih dalam keadaan tidak beriman, maka habislah semuanya. Bukankah ia sangat merugi? 

Dalam surah Al-Kahfi ayat 103 sampai 105, Allah berfirman yang artinya;
“Katakanlah (Muhammad), “Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling rugi perbuatannya?
(Yaitu) orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya. 
“Mereka itu adalah orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan (tidak percaya) terhadap pertemuan dengan-Nya. Maka sia-sia amal mereka, dan kamu tidak memberikan penimbangan terhadap (amal) mereka pada hari Kiamat.”

Karena itulah iman sangat penting dalam kehidupan seseorang. Namun, bila seseorang telah memiliki iman (keyakinan kepada Allah), ia juga bisa rugi karena amalnya. Sebab, bila amalan tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah, maka apa yang ia lakukan akan tertolak bahkan menjadi dosa (bid’ah). Dalam sebuah hadis disebutkan;

“Dari Ibunda kaum mukminin, Ummu Abdillah Aisyah –semoga Allah meridhainya- beliau berkata: Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Barangisiapa yang mengada-adakan sesuatu hal yang baru dalam perkara kami ini yang tidak ada (perintahnya dari kami) maka tertolak." (HR. Bukhari dan Muslim)

Beruntunglah kita sebagai umat islam yang memiliki Rasulullah, seorang suri tauladan yang patut dicontoh. Kehidupannya sangat dijaga oleh Allah. Kisah, perbuatan, bicaranya, bahkan diamnya termaktub dalam sirah Nabawiyah dan dalam hadist-hadist. Sehingga apa yang beliau lakukan dapat kita contoh dalam kehidupan. 

Selain itu, saya juga teringat dengan sebuah hadist bahwasanya setiap amal tergantung pada niat. Amal yang salah dengan niat yang benar akan menjadi salah. Seperti halnya perbuatan mencuri dengan niat agar bisa bersedekah. Begitu pula dengan amal yang benar namun niat yang salah akan menjadi salah, misalnya bersedekah untuk riya’ (ingin dipuji orang lain). Bukankah semua ini juga merupakan kerugian yang besar? Maka itu, pantaslah bila ilmu, iman dan amal harus sinergi. Benar bila ada yang mengatakan bahwa “iman 
tanpa amal itu hampa, sedangkan amal tanpa iman itu percuma”. 

Lantas, siapakah orang yang tidak merugi? 

“Demi Masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati suapa menetapi kesabaran.” (Q.S. Al-Ash: 1-3) 

Maka jelaslah bahwa kehidupan kita tidak akan merugi apabila kita memiliki iman dan ilmu kemudian mengaplikasikannya dengan amal shaleh -menyeru orang lain dalam kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran- serta saling menasehati dalan kebenaran dan kesabaran.  

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali Imran: 104). 
Semoga kita semua termasuk dalam orang yang beruntung itu. Aamiin…









No comments

Powered by Blogger.