Resensi Novel Tentang Kamu karya Tere Liye


sumber gambar: Riawani Elyta


“Terima kasih untuk kesempatam mengenalmu, itu adalah salah satu anugrah terbesar dalam hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita.”

Itulah sedikit bagian dari sinopsis novel “Tentang Kamu” di kover belakang. Dari judulnya, saya sebagai calon pembaca sudah bisa menebak bahwa novel ini menceritakan tentang kehidupan seseorang. Tapi saya tidak mengerti dengan gambar di kover –sepasang sepatu- setelah menelusuri novel hingga akhir, sepertinya isi novel ini tidak ada hubungannya dengan sepatu. Memang ada sih diceritakan bahwa tokoh dalam novel membawa oleh-oleh berupa sepatu, namun hanya singkat, bukan permasalahan penting.

Ah, “Don’t judge the book by the cover”. Yup, isinya lebih penting. Apalagi pengarangnya adalah Tere Liye, salah satu penulis produktif  dengan karya-karya sebelumnya yang terbukti ‘asyik’. Saya rasa calon pembaca tidak mementingkan kover yang menarik. Terbukti, karya Tere Liye selalu dinanti.

Satu hal yang saya kagumi dari novel Tere Liye adalah ‘sederhana’. Begitu pula dalam novel ini. Selain kovernya yang tidak banyak hiasan, saat dibuka juga tidak bertele-tele; kover dalam, persembahan (yang amat singkat), daftar isi dan isi novel. Tidak ada testimoni, tidak ada kata pengantar yang panjang lebar, tidak ada profil penulis di akhir buku, juga tidak ada promo buku lainnya, to the point and I love it.

Pada bagian kover tertulis “Best Seller”, entah kapan julukan ini diberikan. Tapi nggak perlu heran juga sih. Saat membeli buku ini pada bulan Mei 2017, buku yang saya miliki adalah cetakan ke delapan. Cetakan pertama dimulai pada Oktober 2016. Terdapat 524 halaman dan 33 Bab.

Setelah membaca, tepat sekali dugaan saya bahwa buku ini menceritakan kehidupan seseorang. Sebenarnya saya sudah tahu sebelumnya karena membaca komentar di Facebook Tere Liye, seseorang itu bernama Sri. Banyak yang mengatakan bahwa sosok di dalam novel ini sungguh menginspirasi. Saya pikir, pasti menyenangkan sekali membaca kisahnya (walau hanya fiksi), pasti ceritanya tidak melulu soal cinta.

Benar saja, saat awal membaca saya sudah masuk dalam cerita. Novel ini berkisah tentang seorang pemuda yang bekerja pada perusahaan hukum. Pemuda bernama Zaman ini kemudian ditugaskan untuk menyelidiki kasus harta warisan milik Sri Ningsih. Harta yang ditinggalkannya itu bernilai 19 triliun rupiah. Sedangkan Sri ningsih tidak meninggalkan surat wasiat secara langsung. Apabila tidak ada ahli waris, maka ‘fix’ harta tersebut akan jatuh pada kerajaan Inggris. Oiya, latar tempat dalam novel terdapat di Indonesia, London dan Paris.  Zaman kemudian menyusuri kehidupan Sri melalui diary, teman masa kecil, sahabat sekolah, surat-surat, keluarga baru Sri, pengurus panti jompo, teman bekerja Sri dan masih banyak lagi. 

Kisah-kisah kemudian terkumpul, mulai dari masa kecil, masa remaja, dewasa, hingga masa tuanya. Hingga pada akhirnya, harta warisan ini…. Ah, kalau saya kasi tau semuanya nggak menarik lagi deh, silahkan baca sendiri ya. Dijamin seru!

Menginspirasi? Sangat! Inilah salah satu alasan saya membeli novel ini. Saya yakin kisah hebat akan berpengaruh positif walaupuh fiksi. Cinta? Ada, tetapi tidak banyak dan tetap manis dan romantis. Namun banyak bagian yang bikin terharu. Untungnya, saya bukan tipe orang yang mewek –menangis tersedu-sedu- wkwkwkwk. Juga ada sensasi tegang, penasaran dan bahagia. Rasanya tak sabaran pengen mengetahuinya akhirnya. Untungnya ending novel ini tuntas, tidak menggantung. Kebayang nggak kalau udah baca novel 500 halaman lebih tapi endingnya gantung. Nggak tahu apa kelanjutannya, kan bikin kesal. Hihi

Okelah, gimana? Penasaran? Langsung aja yuk baca novelnya. FYI, saya beli Novel ini di Gramedia, Ayani Mall kota Pontianak seharga Rp. 91.000. Silahkan beli dimana saja, asal bukan bajakan ya :)





   

No comments

Powered by Blogger.