Pilih Pacaran atau Ta'aruf?



Pernah suatu waktu seorang teman bertanya kepada saya bagaimana caranya mendapatkan dan mengenal pasangan hidup bila tidak pacaran? Bukankah pernikahan itu (kalau bisa) sekali seumur hidup dan pastinya kita harus tahu seperti apa calon pasangan sebelum beranjak ke jenjang pernikahan?

Mungkin wajar saja jika dia menanyakan hal tersebut karena saya sendiri sudah berkomitmen untuk tidak pacaran. Sedangkan teman saya tersebut masih menganut sistem pacaran dan belum terlalu memahami perkara ta'aruf. 

Lalu, apa jawaban saya? Jujur ilmu tentang ta'aruf saya masih minim, tapi saya mengatakan bahwa taa'ruf itu bukan 'sekali bertemu langsung menikah'. Ta'aruf sendiri artinya mengenal, jadi jika selama proses perkenalan itu ada hal yang tidak cocok/sesuai, masing-masing pihak memiliki hak untuk menghentikan proses ta'aruf tersebut. Jika cocok, bisa lanjut ke pelaminan. Lagian, saya yakin bahwa lelaki yang memilih untuk ta'aruf memiliki banyak plus-plus dibanding mereka yang mengajak pacaran. 

Pertama, pastinya ia adalah orang yang paham/taat akan (peraturan) agama, sehingga ia juga paham bahwa untuk menuju hal yang baik (red: pernikahan), maka harus dengan cara yang baik pula (red: ta'aruf). Kedua, ta'aruf itu menghindarkan diri seseorang dari zina dan juga fitnah, lelaki yang ta'aruf itu sudah pasti orang yang bisa menjaga harga dirinya sebagai seorang muslim. Ketiga, di jaman modern ini pasti banyak sekali godaan untuk pacaran, mereka yang memilih untuk ta'aruf adalah mereka yang sanggup dan kuat menahan godaan tersebut. Keempat, laki-laki yang ta'aruf itu adalah mereka tidak modus ataupun memberikan harapan palsu, karena sudah jelas tujuannya adalah untuk menikah walaupun kedepannya ada hal yang tidak cocok dan harus berhenti prosesnya. Kelima, mereka juga menghargai wanita dengan tidak mengajak pacaran atau perbuatan lain yang mendekati zina dan menghadirkan dosa. 

Bagaimana kalau pacaran? Saya yakin seorang muslim/muslimah mengetahui bahwasanya pacaran itu tidak ada dalam ajaran agama islam. Bahkan untuk mendekati zina saja sudah dilarang. Jika sudah berzina, hukuman di dunia menurut syariat islam adalah di rajam. Apalagi hukuman di akhirat? Namun banyak yang tak mengindahkan ketetapan ini dengan berbagai alasan dan pembelaan. Banyak sekali mudharat dari pacaran. Dan hal yang paling miris bagi saya sebuah berita pembunuhan dan pembakaran seorang wanita yang sedang hamil oleh pacarnya yang tak mau bertanggung jawab. Masih banyak lagi mudharat-mudharat lain yang kita saksikan baik di televisi maupun dunia nyata. Mungkin ada merasa tidak memperoleh mudharat dari pacaran, namun secara tidak sadar setiap harinya menabung kesahalan/dosa akibat melakukan sesuatu yang tidak diridhoi Allah. Wallahu A'lam Bishawab.
  


No comments

Powered by Blogger.