Mengenang Masa Rantau dan Ingin Kembali


sumber gambar: SoloSoloku

Kalau ada yang bilang "masa lalu biarlah berlalu", saya kurang setuju dengan ini. Sebab, ada saatnya kita harus mengenang masa lalu untuk belajar darinya, agar kesalahan di masa lalu tak terulang kembali dan kita menjadi pribadi yang lebih baik *ciaahhh... 

Rasanya rindu juga dengan masa kuliah dulu, dengan setumpuk tugas yang rela saya kerjakan hingga larut malam *pengen kuliah lagi rasanya. Dan di masa kuliah dulu, saya sempat ikut kelas akselerasi yang dinamai dengan SETC (Sinka Education and Training Centre). Kuliahnya ini sama kayak kuliah biasa, namun lebih intens belajarnya dan lokasinya tidak di kampus di kota Pontianak melainkan di luar kota (tapi masih di daerah Kalbar sih).

Karena belajarnya harus di kota yang berbeda, yaitu kota Singkawang, saya yang berasal dari kota Pontianak ini, terpaksa harus merantau jauh dari keluarga dan handai taulan *hiks -_-. Ternyata jadi anak rantau itu berat mamen, udah enak-enak di home sweet home, eh harus berpisah pula. Salut dah buat teman-teman aku atau anak kuliah yang pergi jauh dari orang tua untuk menuntut ilmu. Jangan disia-siakan ya kuliahnya :).

Mungkin yang pernah merantau tahu bahwa cobaan di perantauan bukan hanya 'home sick', bawaan pengen pulang saja. Tetapi kehidupan yang dijalani juga beda. Alhasil, ada hal yang berubah dalam diri kita yang membuat diri kita mau tidak mau harus menjalani kebiasaan yang berbeda pula. Kalau dirumah ada emak yang masakin, kalau di perantauan, ada gojek yang antarin *eh nggak ding. 

I felt it so, meski banyak cobaan hati dan pikiran. Meski hayati lelah karena tugas yang tak kunjung enyah, namun hidup jauh dari keluarga menjadikan saya memiliki kebiasaan yang lebih baik dibanding di rumah. Misalnya, bisa bangun tidur sendiri, setiap hari nyuci baju walau hanya sehelai, mengerjakan tugas dengan segera, kemas-kemas kamar (dan ruangan kelas), ambil makan sendiri, dan hal hal tak terduga lainnya yang mungkin kalau di rumah nggak bisa seperti itu. Jiwa dan raga lebih santai kayak di pantai *Ups.

Kalau ada waktu dan kesempatan, pengen rasanya merantau atau ngerjain projek (atau menikah *eh) yang membuat saya jauh dari rumah dan menjadi lebih baik. Pernah dengar sebuah kisah seseorang yang rela ngekos, meskipun rumah dan kampusnya dia juga ada di kota yang sama demi meninggalkan zona nyaman dan belajar lebih baik dan mandiri. Yipp, keluar dari zona aman salah satu caranya adalah keluar dari rumah. 

Teringat dengan sebuah puisi karya Imam Syafi'i yang saya baca dari buku 5 Menara tentang merantau. Puisi bawah ini sekaligus menutup artikel saya tentang "Mengenang Masa Rantau dan Ingin Kembali. Saya Veniy Andriyani, terimakasih atas perhatian anda dan sampai jumpa di artikel lainnya. *sorry kalau absurd 

Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih jika tidak kan keruh menggenang
Singa tak akan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika saja matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman
Orang-orang tidak akan menunggu saat munculnya datang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan
Jika dibawa ke bandar berubah mahal jadi perhatian hartawan.




No comments

Powered by Blogger.