Kuliah pra Nikah (2) – Menjemput Jodoh Impian


sumber gambar: Media Muslimah

Assalamulaikum teman-teman, kembali lagi pada pembahasan seputar menikah. Sebelumnya sudah dipaparkan materi kuliah “Ketika Jatuh Cinta (namun belum siap nikah). Udah baca belum? Kalau belum baca dulu gih sana.
Sekali lagi, meski tulisan ini tentang nikah, tapi yang nulis tidak begitu ‘expert’ dengan pembahasan ini (Ya iyalah, nikah aja belom *eh). Hanya ingin menyampaikan apa yang didapatkan dari seminar kuliah pra nikah, juga dari buku “Syariat Cinta” karya ustadz Nanang Zakaria (recommended deh buat di baca) dan pemahaman serta pengalaman pribadi. Jadi, jika terdapat kesalahan kata maupun penyampaian, mohon dimaafkeun. Sebab, saya hanyalah remeh-remeh rengginang setengah angus yang tak luput dari salah dan dosa. Hihi.
Baiklah, langsung saja cekidot!

“Siapa ya jodohku?”

mungkin pertanyaan ini sering menghantui para jojoba (jomblo-jomblo bahagia) yang tersebar di seluruh nusantara. Setiap orang pasti udah ada jodohnya, bahkan sudah tertulis lama di Lauh Mahfudz, hanya saja ada yang udah ketemu, ada juga yang belom ketemu. Karena itulah, harus dijemput.
Bagaimana cara menjemputnya?
Sebelumnya, ketahuilah terlebih dahulu tentang cara memilih calon isteri atau calon suami idaman sesuai dengan tuntunan agama. Nggak mungkin kan asal nikah aja. Hiks.

1. Memilih Calon Istri

“Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, ‘Wanita itu dinikahi karena empat hal; karena agamanya, nasabnya, hartanya dan kecantikannya. Maka perhatikanlah agamanya kau akan selamat” (HR. Bukhari, Muslim)
Mungkin sudah banyak yang tahu hadis di atas. Di antara empat kriteria; agama, garis keturunan, status ekonomi dan kecantikan, pertimbangan agama adalah yang utama. Sebab, ibu adalah madrasah yang pertama bagi anak-anak. Jika agamanya baik, tentu bisa membina rumah tangga dengan baik dan mendidik anak dengan baik pula.
Selain agama, juga boleh menambahkan kriteria lain yang disenangi. Hal ini tercantum di Al-Qur’an dalam surah An-Nisaa ayat 3.
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka (kawinlah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”.
Firman Allah: “maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi” jelas bahwa supaya seorang laki-laki mencari pasangan hidup yang mengandung unsur ketertarikan, kesenangan, kecenderungan, sehingga wanita yang dinikahi menjadi pendamping hidup yang menyenangkan dan menentramkan.

Apa itu kriteria yang disenangi?

Misalnya ingin punya pasangan yang satu hobi, memiliki pasangan suka traveling, pasangan yang keibu-ibuan, pandai masak, tidak sombong, rajin menabung. Pokoknya pikir sendiri deh mana baiknya.
Selain kriteria diatas, boleh juga menambahkan kriteria memilih calon yang penyanyang, subur dan kemungkinan dapat melahirkan banyak keturunan.
Nikahilah wanita yang penyayang dan banyak anak karena Aku berlomba dengan nabi lain pada hari kiamat.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibbam)
Nah, jadi jelas kan ya. Kriteria yang diajurkan dalam agama untuk memilih calon isteri. Lalu bagaimana dengan wanita dalam memilih calon pasangan hidupnya?

2. Memilih Calon Suami

Apakah wanita hanya menunggu? Ketika ada yang datang, langsung diterima? Duh. Kalau bagi saya, berjodoh dengan siapa bukan masalah siapa yang cepat melamar, tapi siapa yang paling tepat melamar. *eh.
Nah, wanita juga berhak memilah dan memilih jodoh yang tepat kok.
Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang wanita kalian, maka hendaknya kaliah menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya kan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. At-Tirmidzi no. 1084, dihasankan Al- Albani dalam Al-Irwa’ no. 1868, Ash-Shalihah no.1022)
Jadi, ada dua kriteria sis; agama dan akhlak. Jika salah satunya tidak disenangi, misalnya ibadahnya rajin, tapi dalam akhlaknya ada hal yang tidak disukai, tidak apa-apa bila menolak.
Wanita juga boleh menentukan kriteria lain yang disenangi. Seperti yang telah dijelaskan di atas itu. Tetapi jangan sampai tertipu dengan penampilan fisik semata. Kadang suka menipu sis. Gelar, kedudukan dan status sosial tidak menjamin seseorang memiliki hati dan perilaku yang baik.
Hal lain yang juga perlu diperhatikan bagi laki-laki atau perempuan dalam memilih calon pendamping adalah sekufu. Kufu atau kafa’ah artinya adalah kesepadanan.
“Wahai Ali, ada tiga perkara yang jangan kau tunda pelaksanaanya; shalat apabila telah tiba waktunya, jenazah apabila telah siap penguburannya, dan wanita apabila telah menemukan jodohnya yang sekufu/sepadan” (HR. Tirmidzi)
Berdasarkan hadits diatas, sekufu itu perlu. Ia bukan syarat dan rukun pernikahan, tetapi dapat menjadi syarat kelestarian pernikahan.
Namun, ada banyak yang salah persepsi tentang masalah kufu ini. Ada yang menganggap sepadan dalam hal usia, harta dan fisik. Menurut Imam Malik, ungkapan kafa’ah atau kufu atau sepadan ini khusus untuk kesepadanan agama, iman taqwa dan juga akhlaknya.

Nah, jika sudah memiliki kriteria-kriteria calon pendamping hidup, bagaimana cara menjemputnya?

Apa pakai Go-jek, Abang Kurir, JNE, J n T, Wahana atau lainnya. Pastinya nggak dong ya. Karena yang jemput adalah manusia, maka yang jemput juga harus manusia.

1. Melalui Perantara Orang Tua

Masih jaman dijodohkan sama orang tua? Ya, masih jaman kok. Cara ini diperbolehkan dalam islam. Namun, hendaknya orang tua yang mencarikan jodoh untuk anaknya tetap meletakkan keputusan di tangan anak. Namun, biasanya cara ini memiliki kelemahan dimana ada ketidaksuaian antara keinginan orangtua dan anak. Untuk itulah, komunikasi terkait kriteria pasangan yang diharapkan sangat penting sebelum memulai proses pencarian.

2. Aktif Mencari

Jodoh itu rezeki yang harus dijemput. Makanya harus aktif. Bisa meminta tolong dengan teman, tetangga, ustadz atau ustadzah, murobbi dan sebagainya. Bisa juga langsung ke orangnya (tapi dengan cara yang syar’i ya). Pokoknya aktif menacari deh dan hal ini tidak hanya berlaku untuk kaum adam, namun hawa juga harus aktif. Dan tidak tercela bila seorang wanita muslimah untuk menawarkan diri untuk dinikahi wanita shalih sebagaimana kisah pernikahan Rasulullah dan Khadijah.
Nah, salah satu media yang dapat digunakan dalam meminta bantuan orang lain adalah dengan mengajukan proposal. Masih bingung cara membuat proposal pernikahan? Coba aja searching di Google. Buanyak banget contohnya. Buat yuk.*eh.
Nah, sekian dulu yang pembahasan tentang “Menjemput Jodoh Impian”, sebenarnya mau lanjut pembahasan tentang “Cara Mengenal Calon Pasangan Tanpa Pacaran”, tapi kayaknya ini udah kepanjangan banget. Lanjut di artikel berikutnya ya. Jangan lupa like, comment dan share dulu, kakak
Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat dan menjadi pengingat, terutama bagi diri saya pribadi yang tak lepas dari salah dan khilaf. Akhir kata, saya ucapkan terima kasih bagi yang sudah singgah dan membaca.
Assalamualaikum

No comments

Powered by Blogger.